Kominfo Dorong Kewaspadaan Antisipasi Ransomware Petya

Jakarta, Kominfo – Meski hingga saat ini belum dilaporkan adanya serangan terhadap sektor strategis, Kementerian Komunikasi dan Informatika mendorong semua pihak meningkatkan kewaspadaan akan  ancaman Ransomware Petya. Menurut Menteri Rudiantara, pihaknya terus melakukan sosialisasi selama libur lebaran.

“Alhamdulilah di Indonesia ada lebaran. Kita masuk hari Senin. Rabu kemarin sudah dipelototi. Jadi kita masih ada waktu dari hari Jumat, Sabtu, Minggu untuk  terus-terusan sosialisasi ke masyarakat agar kita meminimalisir terpapar dari malware atau ransomware jenis Petya ini,” katanya dalam konferensi pers di Cikini, Jakarta, Jumat (30/06/2017) siang.

Antisipasi menurut Menteri Kominfo perlu dilakukan karena hampir setiap saat dunia siber Indonesia selalu mengalami serangan dalam berbagai bentuk. “Dari hari Rabu kemarin, kita mulai memperhatikan di dunia cyber attack/ serangan siber. Cyber attack itu kehidupan detik per detik. Indonesia itu masuk 10 besar negara yang selalu kena serangan,” ujarnya.

Beda WannaCry dan Petya?

Menteri Rudiantara mengungkapkan asamya kesamaan WannaCry dan Petya yang bisa dikategorikan sebagai klasifikasi Ransomware. “Bulan lalu WannaCry. WannaCry dan Petya, dua-duanya klasifikasinya dianggap Ransomware. Ransom itu tebusan jadi kalau terkena, terkunci, terenkripsi tidak bisa dibuka, dia minta uang agar nanti dikasih vaksinnya agar bisa dibuka. Ditenggarai yang Petya sama-sama Ransomware karena meminta juga senilai 300 dolar,” jelasnya.

Menurut Menteri Kominfo, Ransomware Petya ini sudah ada sejak tahun 2016. “Petya ini sudah ada pada tahun 2016, 2017 ini istilahnya outbreak. Outbreak itu yang dulu ada, bikin tidur, sekarang ada yang memainkan, memodifikasi, dan melemparkannya ke seluruh dunia,” tegasnya.

Meskipun demikian, Menteri Rudiantara menyebut adanya perbedaan WannaCry dan Petya. “WannaCry dalam waktu 24 jam langsung terpapar 45000 instalasi atau komputer pada saat itu, kalau Petya dalam 24 jam hanya belasan ribu dan yang kebanyakan kena itu daerah ex Eropa Timur atau bekas Rusia, Ukraine, Eropa Tengah, dan Asia Selatan,” katanya.

Selain itu, ada juga perbedaan dalam prosea infeksinya. “Perbedaannya lagi yang lain adalah kalau WannaCry itu mengenkripsikan flat. Kalau dianalogikan hotel, kamarnya yang tidak bisa dibuka, filenya yang tidak bisa dibuka sedangkan Petya ini hardisknya atau satu hotel tidak bisa dibuka. Kalau dilihat dampak implikasinya memang sangat besar karena dia mengenkripsi hardisk keseluruhan bukan file-file tertentu,” kata Rudiantara. (PS)

Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *