Lorong IT – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan penguatan kolaborasi industri Indonesia-Tiongkok untuk mempercepat transfer dan pemanfaatan teknologi. Melalui keterlibatan perusahaan kedua negara, kerja sama riset diharapkan dapat bergerak lebih jauh menuju tahap validasi, demonstrasi, komersialisasi, hingga penerapan teknologi yang lebih luas.
Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, Edi Hilmawan, menjelaskan kerja sama riset dan inovasi Indonesia-Tiongkok telah berkembang pada berbagai bidang strategis. Namun, tahap berikutnya perlu lebih diarahkan pada pemanfaatan teknologi dan dampak yang dapat dihasilkan dari kegiatan riset tersebut.
“Tantangan utama pada fase berikutnya adalah bagaimana memperkuat jalur dari kegiatan penelitian dan inovasi ini menuju pemanfaatan dan dampak teknologi yang lebih besar,” ungkap Edi dalam 8th Joint Committee Meeting RI-RRT on Research and Innovation, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (18/8).
Menurutnya, kerja sama ke depan perlu bergerak dari kegiatan riset yang masih tersebar menuju kemitraan inovasi yang lebih terkelola. Upaya tersebut membutuhkan aturan yang lebih jelas, keterlibatan industri yang lebih kuat, serta tanggung jawab bersama dalam pelaksanaannya. “Kami meyakini fase berikutnya dari kerja sama ini harus melampaui kegiatan-kegiatan yang tersebar dan didorong oleh penelitian dasar, menuju kemitraan inovasi yang lebih terstruktur dengan aturan yang lebih jelas, partisipasi industri yang lebih kuat, dan akuntabilitas bersama,” ucapnya.
BRIN mengidentifikasi empat bidang yang memerlukan perhatian bersama. Pertama, penyelarasan kebijakan dan aspek legal dalam pelaksanaan transfer teknologi. Edi menyebut instrumen kerja sama yang telah ada perlu ditinjau kembali agar mekanisme transfer teknologi antara kedua negara semakin jelas.
Kedua, peningkatan keterlibatan industri. Menurut Edi, peran sektor swasta dalam perancangan proyek, uji coba, dan pemanfaatan teknologi masih terbatas. Karena itu, BRIN mengusulkan proyek percontohan yang menghubungkan perusahaan Indonesia dan Tiongkok untuk mendukung demonstrasi serta komersialisasi teknologi.
“Keterlibatan sektor swasta dalam perancangan proyek, uji coba, dan adopsi teknologi ini masih terbatas. Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk meluncurkan sejumlah program uji coba terpilih yang melibatkan industri, baik dari Indonesia maupun Tiongkok, guna mendukung demonstrasi dan komersialisasi teknologi,” jelas Edi.
Ketiga, BRIN melihat adanya perbedaan tingkat kesiapan teknologi dan kapasitas antarmitra. Untuk itu, kedua negara perlu melakukan pemetaan bersama terhadap kemampuan teknologi, tingkat kesiapan, serta kebutuhan pengembangan kapasitas.
Keempat, kerja sama yang semakin luas memerlukan mekanisme pemantauan dan evaluasi yang lebih terstruktur. BRIN mengusulkan tata kelola teknis dengan titik fokus yang jelas, evaluasi perkembangan secara berkala, serta indikator yang disepakati bersama.
Selain mengidentifikasi tantangan, BRIN menawarkan tiga arah praktis untuk memperkuat kerja sama. Salah satunya melalui program percontohan berbasis industri yang melibatkan perusahaan Indonesia dan Tiongkok. Program tersebut diharapkan menjadi penghubung antara hasil riset dan pemanfaatannya, mulai dari validasi, demonstrasi, komersialisasi, hingga adopsi yang lebih luas.
“Program percontohan ini dapat menjadi jembatan praktis dari penelitian menuju hasil konkret, termasuk validasi, demonstrasi, komersialisasi, dan penerapan yang lebih luas di kalangan industri,” ungkap Edi.
BRIN juga mengusulkan penguatan kerja sama dalam inovasi, komersialisasi, dan pengembangan kewirausahaan dengan melibatkan institusi Tiongkok, mitra industri, serta ekosistem pengembangan usaha. Selain itu, pertemuan teknis juga dinilai penting untuk mengidentifikasi peluang kerja sama konkret pada bidang ilmu kelautan, geologi, biodiversitas, kecerdasan artifisial dan keamanan siber, energi, manufaktur, aplikasi satelit, serta pertanian.
Kerja sama Indonesia-Tiongkok sendiri telah berkembang pada berbagai sektor. Dalam pemaparannya, Edi menyebut kolaborasi pada teknologi maju, energi, material, teknologi nuklir, kereta cepat, elektronik, kecerdasan artifisial, dan keamanan siber. Sejumlah proyek juga berjalan pada kendaraan listrik, katalis hidrogen, biomass co-firing, dan solid-oxide fuel cells.
Kerja sama juga mencakup penginderaan jauh satelit, geologi, ilmu kelautan, riset laut dalam, karbon biru, serta pemantauan ekologi. Pada bidang kesehatan, ilmu hayati, dan pangan, kolaborasi mencakup tanaman obat, pengobatan tradisional, rekayasa klinis dan biomedis, biodiversitas, penemuan mikroba, senyawa bioaktif, serta sistem pertanian dan pangan berkelanjutan.
Edi menilai hasil riset pada bidang-bidang tersebut perlu semakin terhubung dengan rumah sakit, industri, petani, dan pengguna teknologi lainnya agar dapat bergerak dari penemuan ilmiah menuju validasi, penerapan awal, komersialisasi, dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Menutup pemaparannya, Edi menggarisbawahi tahap berikutnya dari kerja sama Indonesia-Tiongkok perlu melampaui kegiatan riset dan semakin diarahkan pada inovasi, transfer teknologi, dan kewirausahaan.
Sumber : www.brin.go.id

