Lorong IT – Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN, Muhammad Najib Azca, menilai kerja sama Indonesia–Tiongkok perlu diarahkan pada penguatan alih teknologi, sumber daya manusia, riset, dan inovasi agar memberikan nilai tambah bagi pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
“Perubahan tatanan global, disrupsi teknologi, dan krisis iklim menuntut Indonesia memiliki strategi pembangunan yang mampu menjaga otonomi strategis sekaligus memanfaatkan peluang kerja sama internasional,” ujar Najib dalam Academic Symposium bertajuk “Aligning Chinese-Style Modernization with Golden Indonesia 2045: New Opportunities and New Prospects”, di Gedung Widya Graha BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (20/8).
Menurutnya, hubungan Indonesia–Tiongkok yang telah memasuki usia 76 tahun tidak hanya berkembang dalam bidang diplomasi dan perdagangan, tetapi juga melalui kerja sama akademik.
“Bagi negara berkembang seperti Indonesia, situasi ini melahirkan sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana kita menavigasi dunia yang tidak lagi menawarkan satu resep pembangunan tunggal? Bagaimana kita menjaga otonomi strategis di tengah tarikan kepentingan kekuatan-kekuatan besar?”
Lebih jauh Najib menguraikan, Chinese-style modernization dan Indonesia Emas 2045 merupakan dua visi pembangunan yang dapat diperbandingkan secara akademik. Meskipun lahir dari sejarah, sistem politik, dan struktur sosial yang berbeda, keduanya dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memahami pilihan pembangunan yang sesuai dengan kondisi masing-masing negara.
“Kita bukan sedang mencari model untuk disalin, melainkan pengalaman untuk dipelajari secara kritis, apa yang berhasil, apa yang gagal, dan dalam kondisi apa sesuatu bekerja,” katanya.
Empat Aspek Strategis Dalam Pengembangan Kerja Sama Indonesia–Tiongkok
Dalam konteks tersebut, Najib mengidentifikasi empat aspek strategis yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kerja sama Indonesia–Tiongkok. Pertama, transformasi struktural dan peningkatan nilai tambah melalui alih teknologi, pendalaman industri, penguatan kapasitas sumber daya manusia lokal, serta tata kelola lingkungan.
“Investasi yang berhenti pada ekstraksi tidak akan mengantarkan kita ke 2045,” tegasnya.
Kedua, transisi hijau. Indonesia memiliki kekayaan mineral kritis, potensi energi terbarukan, hutan tropis, dan ekosistem laut yang strategis. Di sisi lain, Tiongkok memiliki kapasitas manufaktur dan inovasi teknologi hijau. Pertemuan kedua potensi tersebut, menurut Najib, membuka peluang kerja sama yang besar, dengan tetap memperhatikan dampak sosial dan ekologis pembangunan.
Aspek ketiga yang disoroti Najib adalah penguatan riset, inovasi, dan sumber daya manusia. Ia menilai kolaborasi riset, pertukaran periset, serta publikasi bersama merupakan investasi jangka panjang yang dapat memperkuat kapasitas pengetahuan kedua negara.
Sementara itu, aspek keempat adalah kepercayaan publik. Menurut Najib, hubungan bilateral tidak hanya ditentukan oleh angka perdagangan, tetapi juga oleh persepsi, memori kolektif, dan sentimen masyarakat.
“Kemitraan yang berkelanjutan hanya bisa dibangun di atas resiprositas, transparansi, dan rasa keadilan yang dirasakan oleh masyarakat di tingkat akar rumput,” ujar Najib.
Ia menegaskan, ilmu sosial dan humaniora memiliki peran penting dalam memastikan pembangunan tidak hanya diukur secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga dimaknai dalam konteks sosial. Teknologi dan investasi dapat diperoleh melalui kerja sama, sementara kohesi sosial, legitimasi politik, dan kepercayaan antarbangsa perlu dibangun secara berkelanjutan.
“Karena itu, forum seperti hari ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah bentuk diplomasi pengetahuan, ruang di mana dua komunitas ilmiah dapat berbicara secara setara, terbuka, dan kritis,” katanya.
Najib berharap simposium tersebut menjadi titik awal bagi agenda riset bersama BRIN dan CASS yang lebih terstruktur melalui riset kolaboratif, pertukaran periset, dan publikasi bersama. Kolaborasi itu diharapkan dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu sosial di kawasan sekaligus memperkuat sinergi negara-negara Global South.
“Semoga dialog hari ini melahirkan gagasan yang jernih, jujur, dan bermanfaat bagi kedua bangsa,” pungkas Najib.
Sumber : www.brin.go.id

