Hakteknas 2026: Dari Mobil Listrik hingga Teknologi untuk Desa, Jejak Inovasi ITB yang Berdampak bagi Indonesia

Lorong IT

Loro ng IT –  Teknologi tidak berhenti pada seberapa canggih sebuah alat diciptakan. Nilainya menjadi lebih besar ketika mampu menjawab persoalan nyata, memperkuat kemandirian bangsa, membuka peluang bagi industri dalam negeri, dan pada akhirnya memperbaiki kehidupan masyarakat.

Semangat itulah yang terus dihidupkan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui berbagai riset dan inovasi lintas bidang. Dari mobil listrik, katalis untuk industri energi, ventilator saat pandemi, kendaraan otonom, teknologi air minum, hingga mesin pengering jagung untuk petani, berbagai karya sivitas akademika ITB menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi solusi yang dekat dengan kebutuhan Indonesia.

Momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-31, 10 Agustus 2026, yang mengangkat tema “Teknologi Berdampak untuk Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejumlah jejak inovasi tersebut. Hakteknas sendiri berakar dari penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkaca pada 10 Agustus 1995 di Bandung, yang menjadi salah satu tonggak penting kemampuan bangsa Indonesia dalam mengembangkan teknologi secara mandiri.

Bagi ITB, semangat kebangkitan teknologi itu terus berkembang. Tantangannya bukan hanya menciptakan teknologi, tetapi memastikan teknologi dapat diproduksi, digunakan, dan memberikan manfaat seluas-luasnya.

Dalam perjalanan tersebut, berbagai inovasi lahir dari beragam disiplin ilmu di ITB. Mulai dari kendaraan listrik hingga teknologi untuk membantu petani, berikut 10 inovasi yang menunjukkan kontribusi ITB dalam mendorong kemandirian teknologi sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.

1. Mobil Listrik ITB pada Hakteknas 2012: Jejak Awal Menuju Transportasi Masa Depan

 

Pada peringatan Hakteknas ke-17 tahun 2012, ITB memperkenalkan mobil listrik Jalak dalam RITech Expo di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga). Dikembangkan secara multidisiplin bersama FTMD, STEI, FSRD, dan PT Pindad, kendaraan ini menjadi salah satu jejak awal pengembangan kendaraan listrik di ITB.

2. Katalis Merah Putih, Memperkuat Kemandirian Industri Energi Nasional

 

Katalis merupakan komponen penting dalam industri pengolahan minyak, gas, dan kimia. Melalui pengembangan Katalis Merah Putih, ITB turut mendorong kemampuan Indonesia memproduksi katalis sendiri dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.

3. Laptop dan Motherboard Buatan Indonesia untuk Kemandirian Elektronik

 

ITB terlibat dalam pengembangan Laptop Merah Putih yang kemudian berkembang melalui kolaborasi bersama industri nasional. Salah satu pencapaiannya adalah pengembangan motherboard yang dirancang dan diproduksi di Indonesia, sekaligus mendorong peningkatan komponen dalam negeri pada industri elektronik.

4. AVA, Kendaraan Otonom yang Dikembangkan untuk Kondisi Indonesia

 

Melalui Autonomous Vehicle Adaptive/AI (AVA), ITB bersama mitra industri mengembangkan kendaraan otonom berbasis kamera, computer vision, dan kecerdasan buatan. Teknologi ini diarahkan agar dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan transportasi di Indonesia.

5. Vent-I, Teknologi ITB yang Hadir Saat Indonesia Menghadapi Pandemi

 

Pada masa pandemi COVID-19, ITB bersama Yayasan Masjid Salman dan Universitas Padjadjaran mengembangkan Vent-I atau Ventilator Indonesia. Sekitar 1.000 unit Vent-I kemudian didistribusikan ke ratusan rumah sakit di seluruh Indonesia sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan menghadapi pandemi.

6. IGW Membran Ultrafiltrasi dan ITB Water Refill Station, Teknologi Air untuk Gaya Hidup Berkelanjutan

 

Teknologi membran ultrafiltrasi dikembangkan untuk menyediakan air minum dengan sistem penyaringan yang tetap mempertahankan kandungan mineral. Implementasinya melalui ITB Water Refill Station sekaligus mendorong sivitas akademika mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.

7. Smart Trash IoT, Mengelola Sampah Kota Berbasis Data

 

Smart Trash IoT memanfaatkan sensor, kamera, aplikasi, dan dashboard untuk memantau kondisi tempat penampungan sampah secara real-time. Teknologi ini membantu pengelolaan sampah menjadi lebih responsif karena pengangkutan dapat direncanakan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.

8. Desanesha, Menghubungkan Persoalan Desa dengan Kepakaran ITB

 

Desanesha menjadi jembatan digital antara desa dan sivitas akademika ITB. Melalui platform ini, pemerintah desa dapat menyampaikan persoalan yang dihadapi wilayahnya sehingga dapat dipertemukan dengan dosen dan peneliti yang memiliki bidang kepakaran relevan.

9. SADAR Helmet, Helm Pintar untuk Mencegah Kecelakaan akibat Microsleep

 

Mahasiswa ITB mengembangkan SADAR Helmet berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendeteksi gejala microsleep pada pengendara sepeda motor. Sistem memberikan peringatan ketika mendeteksi kondisi berisiko sehingga teknologi tidak hanya melindungi saat kecelakaan terjadi, tetapi turut membantu mencegahnya.

10. Mobile Corn Dryer, Teknologi Pengering Jagung yang Mendekat kepada Petani

 

Mobile Corn Dryer dikembangkan untuk membantu mengatasi persoalan kadar air jagung setelah panen. Karena bersifat bergerak, teknologi pengering ini dapat dibawa lebih dekat ke sentra produksi sehingga proses pengeringan menjadi lebih cepat, terkontrol, dan membantu menjaga kualitas serta nilai jual hasil panen.

Dari laboratorium, ruang kelas, bengkel, hingga desa, ITB terus mendorong agar ilmu pengetahuan tidak berhenti menjadi pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi teknologi yang berdampak bagi Indonesia.

Sumber :itb.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *