Lorong IT – Indonesia, yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, melihat pertumbuhan yang signifikan dalam ekonomi Islam. Pada Juni 2023, total aset keuangan Islam mencapai Rp 2.190,1 triliun, meningkat 9,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Industri halal di Indonesia menunjukkan potensi besar dalam ekonomi Islam global, dengan proyeksi industri halal global mencapai US$5 triliun pada tahun 2045. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan menciptakan tantangan dalam rantai pasokan, yang membuat perlu adanya sistem Rantai Pasokan Halal Berkelanjutan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mayoritas Muslim Indonesia mengutamakan sertifikasi halal dan dampak lingkungan dalam keputusan pembelian. Pemerintah telah melakukan berbagai inisiatif, tetapi infrastruktur digital di daerah terpencil masih menjadi tantangan.
Ekosistem rantai pasokan Islami menghadapi masalah kompleks, termasuk kurangnya integrasi antara aspek Islam, teknologi, dan keberlanjutan. Sekitar 67% pelaku industri halal mengaku kesulitan dalam memastikan kepatuhan. Ketidak efisienan dapat mengakibatkan kerugian hingga US$15 miliar per tahun. Teknologi baru seperti blockchain dan AI dapat meningkatkan efisiensi rantai pasokan.
Pengembangan ekosistem HSSC di Indonesia semakin mendesak untuk mencapai tujuan menjadi pusat ekonomi Islam global pada 2024. Ekosistem HSSC yang terintegrasi dan efisien diperlukan, namun penelitian sebelumnya kurang mempelajari pengembangan ini secara komprehensif, lebih banyak membahas aspek-aspek secara terpisah. Penelitian ini menjawab kesenjangan tersebut dengan mengajukan pertanyaan utama tentang bagaimana konsep Islam, teknologi, dan keberlanjutan bisa diintegrasikan dalam kerangka HSSC. Tujuannya adalah untuk menciptakan kerangka yang mengidentifikasi komponen utama dan hubungan antar dimensi untuk ekosistem HSSC yang efektif di Indonesia.
Penelitian ini memberikan tiga kontribusi teoretis baru. Pertama, mengintegrasikan RBV dan Maqashid Syariah untuk merekonseptualisasi kepatuhan Islam sebagai kemampuan dinamis. Kedua, memperkenalkan Kerangka Adopsi Teknologi Berbasis Nilai (V-TAF) untuk menjelaskan penerimaan teknologi dalam konteks Islam. Ketiga, mengembangkan Sinergi Keberlanjutan Islam (ISS) yang menunjukkan mekanisme motivasi intrinsik dari etika lingkungan Islam. Temuan ini menawarkan inovasi teoritis yang mendalam dan menjawab kesenjangan dalam literatur mengenai adopsi teknologi dan keberlanjutan.
Tinjuan Pustaka
2.1 Landasan teoritis dan keharusan integrasi
Literatur rantai pasokan halal menunjukkan tiga kesenjangan teoretis utama yang belum diatasi. Pertama, Resource-Based View menganggap kepatuhan Islam sebagai batasan perusahaan, meskipun ada kinerja unggul yang tercatat. Kedua, model adopsi teknologi tidak menjelaskan dengan baik penerapan blockchain. Ketiga, kerangka keberlanjutan mengakui etika Islam tetapi kurang menjelaskan hubungannya dengan kinerja terukur. Bukti menunjukkan bahwa perusahaan halal memiliki loyalitas pelanggan lebih tinggi namun biaya kepatuhan meningkat. Selain itu, adopsi teknologi mencerminkan konflik antara nilai agama dan ekonomi, dan keselarasan filosofis tidak selalu menjamin keberlanjutan operasional.
2.2 Konteks implementasi dan paradoks kinerja di Indonesia
Ketegangan teoritis di Indonesia terlihat dalam kompleksitas rantai pasokan akibat lebih dari 17.000 pulau. Sebanyak 78% Muslim Indonesia mengutamakan sertifikasi halal, sedangkan 65% memperhatikan dampak lingkungan, namun hanya 31% bersedia membayar lebih. Mekanisme jaminan halal informal dan sertifikasi formal berjalan berdampingan melalui jaringan kepercayaan. Tantangan dalam sertifikasi mencakup komplikasi dokumentasi untuk UKM. Selain itu, logistik halal menunjukkan peningkatan kinerja, tetapi dengan kondisi integritas yang baik. Masalah ini membutuhkan pemahaman tentang bagaimana kemampuan organisasi memengaruhi kepatuhan dan kinerja, sambil memperhatikan dimensi komplementaritas kelembagaan dan jaringan sosial.
2.3 Sintesis kerangka kerja dan keharusan penelitian
Mengatasi kesenjangan ini membutuhkan kerangka kerja terintegrasi yang melampaui sekadar kombinasi teori yang ada untuk menciptakan mekanisme teoretis yang sepenuhnya baru. Tidak seperti upaya integratif sebelumnya yang hanya menambahkan prinsip-prinsip Islam ke dalam kerangka kerja konvensional (Fernando dkk., 2025; Alamsyah dkk., 2022) atau memperlakukan keberlanjutan sebagai komponen tambahan (Haleem dkk., 2021), kerangka kerja kami menghasilkan konstruksi teoretis baru: V-TAF yang menjelaskan penerimaan teknologi melalui rekonsiliasi nilai ekonomi-agama, dan ISS yang menelaah bagaimana etika lingkungan Islam menciptakan mekanisme motivasi intrinsik yang berbeda dari tekanan kepatuhan eksternal. Kerangka kerja ini mensintesis Pandangan Berbasis Sumber Daya melalui prinsip prinsip Syariah Maqashid, Teori Difusi Inovasi dengan model berbasis nilai, dan Triple Bottom Line melalui etika lingkungan Islam.
Metode dan Hasil
Dengan menggunakan tinjauan literatur sistematis mengikuti pedoman PRISMA 2020, para penulis menganalisis 133 artikel yang ditinjau sejawat dari 286 catatan awal di berbagai basis data utama. Pendekatan konstruktivis dengan sintesis tematik mengidentifikasi komponen-komponen kunci dan merumuskan proposisi teoretis. Para penulis memperkenalkan tiga konstruksi teoretis baru: integrasi RBV–Maqashid Shariah, Kerangka Adopsi Teknologi Berbasis Nilai (Values-Based Technology Adoption Framework/V-TAF), dan Sinergi Keberlanjutan Islam (Islamic Sustainability Synergy/ISS). Kerangka kerja ini mengungkapkan 15 proposisi teoretis yang menjelaskan interaksi antara prinsip-prinsip Islam, pendorong teknologi, dan keharusan keberlanjutan. V-TAF mengatasi kesenjangan dalam model konvensional yang hanya menjelaskan 23% varians adopsi blockchain dalam konteks Islam, sementara ISS menghasilkan pengurangan dampak lingkungan 19% lebih besar dibandingkan dengan pendekatan Triple Bottom Line.
Penulis: Prof. Dr. Ririn Tri Ratnasari, S.E., M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Sari, P. R. K., Ratnasari, R. T., & Osman, I. (2026). Integration of Islamic principles and digital technologies for sustainable halal supply chain management: a conceptual framework. Journal of Islamic Accounting and Business Research, 1-19.
Sumber : unair.ac.id

