Kemenkes: Teknologi TBScreen.AI mampu tingkatkan efisiensi skrining TB

Lorong IT

Lorong IT– Kementerian Kesehatan mengatakan, teknologi TBScreen.AI ciptaan KONEKSI, platform kemitraan Australia-Indonesia untuk pengetahuan dan inovasi, mampu meningkatkan efisiensi skrining tuberkulosis (TB) nasional, terutama di daerah terpencil yang minim fasilitas kesehatan dan dokter spesialis.

Staf Tim Kerja Tuberkulosis (TB) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Kemenkes Rita Aryati mengatakan di Jakarta, Senin, data per 27 Juli 2026 menunjukkan capaian notifikasi kasus TB masih berada di bawah target, di mana notifikasi baru tercapai 41 persen dari target 45 persen. Selain itu, tata laksana pengobatan baru 89 persen dari 95 persen.

“Penemuan kasus harus diikuti dengan pengobatan yang cepat dan tepat untuk memutus rantai penularan TB. Hal tersebut mengingat penanganan penyakit TB sendiri merupakan salah satu program yang menjadi fokus pada PHTC Bapak Presiden. Jadi, penelitian TBScreen.AI dapat membantu Kementerian Kesehatan dalam upaya peningkatan skrining TB,” ujar Rita.

TBScreen.AI mampu menganalisis foto rontgen dada dalam waktu kurang dari lima detik. Selain itu, platform itu dikembangkan berdasarkan keragaman populasi Indonesia, termasuk faktor gender, usia, ras, serta disabilitas, agar hasil skrining lebih akurat dan sesuai dengan konteks lokal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), katanya, mendorong penggunaan perangkat lunak deteksi berbantuan komputer/computer-aided detection (CAD) untuk membantu interpretasi rontgen dada, khususnya di daerah terpencil yang fasilitas kesehatan, sumber daya, dan jumlah ahli radiologinya terbatas.

Meskipun pengembangan CAD untuk skrining TB telah berkembang secara global, kata Rita, Indonesia belum memiliki sistem CAD yang dikembangkan secara mandiri.

Peneliti utama sekaligus dosen Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati menjelaskan, saat ini dataset yang digunakan TBScreen.AI masih didominasi oleh Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Papua, sehingga belum cukup mewakili variasi karakteristik populasi Indonesia.

Oleh karena itu, penambahan data dari provinsi lainnya menjadi prioritas utama. Adapun saat ini TBScreen.AI sudah dapat dioperasikan secara daring dan ke depan, tim akan membuat versi luring, sehingga efektif digunakan di wilayah terpencil, yang memiliki keterbatasan internet.

“Pengumpulan dan uji data yang dilakukan menghasilkan sensitivitas platform TBScreen.AI mencapai 83,16 persen,” katanya.

Ke depan, pihaknya akan terus mengembangkan sensitivitas model dengan rontgen dada yang lebih banyak dan mempertimbangkan komorbiditas, serta kelompok rentan TB yang lebih luas.

Menurutnya, pengembangan teknologi CAD sesuai konteks Indonesia ini memberikan variasi kualitas gambar rontgen dada dan keterjangkauan secara biaya, karena pemerintah tidak perlu membayar lisensi pemakaian setiap tahun. Di samping itu, tata kelola data yang sifatnya sensitif terkait kesehatan pun lebih terjaga karena dikelola langsung oleh Indonesia.

Team Leader KONEKSI Jana Hertz menyebut, riset kolaboratif ini menegaskan komitmen kedua negara dalam pemanfaatan hasil penelitian, untuk menghasilkan inovasi berkelanjutan yang relevan di bidang kesehatan.

“KONEKSI mendukung riset dan inovasi untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital. TBScreen.AI merupakan salah satu dari 101 penelitian yang didukung KONEKSI dan diharapkan dapat membantu penanganan TB secara lebih cepat dan tepat,” ujar Jana.

Dia menjelaskan, riset ini dilakukan oleh antara lain Universitas Gadjah Mada, University of Melbourne, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA), dan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP).

Sumber: jogja.antaranews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *