Lorong IT – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong perusahaan di sektor real estat untuk meninjau kembali strategi investasi teknologi mereka. Meskipun AI telah membuat proses pengembangan perangkat lunak menjadi lebih cepat dan murah, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan biaya pemeliharaan serta manfaat jangka panjang sebelum membangun sistem teknologi sendiri.
Dengan hadirnya berbagai alat AI generatif, perusahaan kini dapat membuat aplikasi internal, seperti sistem pelaporan atau manajemen data, dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Namun, biaya pengembangan yang lebih rendah tidak serta-merta mengurangi kebutuhan akan pembaruan sistem, perawatan, peningkatan keamanan, dan dukungan teknis yang berkelanjutan.
Artikel tersebut menjelaskan bahwa banyak perusahaan masih menganggap membangun aplikasi sendiri sebagai pilihan terbaik. Padahal, dalam banyak kasus, menggunakan perangkat lunak yang sudah tersedia di pasar (off-the-shelf software) dapat menjadi solusi yang lebih efisien dan ekonomis karena biaya pemeliharaan ditanggung oleh penyedia layanan.
Selain itu, organisasi disarankan untuk lebih selektif dalam menentukan teknologi yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi bisnis. AI sebaiknya dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat proses kerja, dan mendukung pengambilan keputusan, bukan sekadar mengikuti tren teknologi yang sedang berkembang.
Di era AI, keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada kemampuan membangun aplikasi dengan cepat, tetapi juga pada strategi pengelolaan teknologi yang tepat. Perusahaan real estat perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pengembangan sistem internal dan penggunaan solusi yang sudah tersedia agar investasi teknologi memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi operasional bisnis.

