Lorong IT– Periset Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rifqi Fajar Giyana, menekankan pentingnya pengelolaan lalu lintas data pada jaringan Internet of Things (IoT). Menurutnya, pengelolaan dilakukan agar kualitas layanan tetap terjaga di tengah meningkatnya jumlah perangkat yang saling terhubung.
Rifqi menyebutkan, perkembangan teknologi IoT menghadirkan berbagai kemudahan di berbagai sektor, mulai dari industri, transportasi, kesehatan, hingga kota cerdas. Namun, semakin banyak perangkat yang terkoneksi, menyebabkan beban jaringan meningkat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas layanan apabila lalu lintas data tidak dikelola secara efektif.
“Seiring meningkatnya jumlah perangkat IoT, jaringan dituntut mampu mengelola berbagai jenis trafik dengan karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan jaringan melalui manajemen layanan non-prioritas yang lebih baik dan memberikan prioritas pada layanan yang membutuhkan respons cepat,” jelas Rifqi, pada webinar PODCAST (Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi) series #3 bertajuk Network Dataplane Programming: QoS-Aware IoT Traffic Management Case Study, Kamis (6/8).
Salah satu pendekatan yang dikembangkan dalam upaya pengelolaan tersebut adalah Network Dataplane Programming, yaitu teknologi yang memungkinkan perangkat jaringan diprogram agar dapat mengatur aliran data secara lebih fleksibel. Melalui pendekatan ini, Rifqi menerangkan bahwa jaringan tidak hanya meneruskan paket data, tetapi juga mampu mengambil keputusan berdasarkan kondisi jaringan maupun kebutuhan layanan yang sedang berjalan.
Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, untuk mendapatkan penggunaan jaringan yang lebih efisien dan optimal, konsep Network Dataplane Programming tersebut dipadukan dengan mekanisme Quality of Service (QoS) Aware Traffic Management. “Selain lebih efisien dan optimal, perpaduan ini juga memastikan semua layanan memiliki jeda pengiriman yang memenuhi persyaratan QoS-nya,” tutur Rifqi.
Dengan demikian, sambungnya, jaringan siap dalam menangani paket IoT dengan intensitas tinggi dan mampu mendukung aplikasi dengan kebutuhan komunikasi real time untuk tetap beroperasi secara optimal meskipun jaringan sedang padat.
Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan teknologi network telemetry, yaitu proses pemantauan kondisi jaringan secara langsung (real time). Melalui telemetry, informasi mengenai penggunaan bandwidth, keterlambatan pengiriman data (delay), hingga kondisi setiap perangkat jaringan dapat diperoleh secara cepat sehingga pengelolaan trafik menjadi lebih responsif terhadap perubahan yang terjadi.
Dalam studi kasus yang dipaparkan, penerapan Network Dataplane Programming menunjukkan potensi dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan trafik IoT. Pendekatan tersebut memungkinkan distribusi lalu lintas data dilakukan secara lebih adaptif sesuai tingkat prioritas layanan sehingga kualitas komunikasi antarperangkat dapat tetap terjaga.
“Harapannya, hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan jaringan komunikasi yang lebih cerdas, adaptif, dan mampu mendukung kebutuhan ekosistem IoT di berbagai sektor. Dengan pengelolaan trafik yang lebih baik, layanan digital di masa depan diharapkan dapat berjalan semakin andal dan efisien,” tutup Rifqi. (aa/ed:mg, tnt)

